Bagi kamu penduduk sebuah daerah yang memiliki makanan khas, pastinya kamu selalu bisa mengunggulkan makanan khasnya sebagai yang terbaik di kelasnya. Contohnya soto. Sajian kuliner yang hampir dimiliki setiap daerah dengan khasnya masing-masing; Soto Banjar, Soto Betawi, Soto Bogor, Soto Padang, dll. Biasanya dari satu makanan khas ini bisa kita ambil perbedaan pada setiap daerah, walaupun penyajiannya agak sedikit mirip-mirip.


Untuk membahas ini agar lebih fokus, mari sejenak kita kesampingkan berbagai sekte garis keras kuliner; Bubur diaduk vs tidak diaduk, Mie Goreng Indomie vs Mie Sedap, Indomie pakai nasi vs tanpa nasi, dan berbagai kemelut antar sekte kuliner yang sedang terjadi, pause aja dulu. Toh ketika kalian lengah “bertarung” antar bubur diaduk vs tidak diaduk, malah kecolongan muncul sekte lain, bubur disedot, bukan?


foto : food.detik.com

Bagi para penikmat warteg di daerah Ibukota dan Jawa Barat, sajian rawon di warung makan “touch screen” tersebut umumnya berwarna kuning, dengan potongan daging gajih yang numpuk. Konon disitu justru disitu nikmatnya, sambil ngunyah “krenyet-krenyet” si gajih dengan kuah berbumbu kunyit yang kental encer, mengunyah dan menelan nasi pun menjadi less-effort dan semakin menambah efisiensi waktu makan, serta bisa saving time untuk udud ngopi cantik sehabis makan.

Dari mana konflik ini sebenarnya bermula? Sebuah akun twitter dengan tagline “memasak dengan seenak jidat” @tiarbah, yang dikenal sebagai chefnya kaum rebahan dan mampu menyajikan berbagai masakan DIY dengan murah di @masakdarurat, mengetwit seperti ini.


foto : Akun twitter @tiarbah

Sontak hal ini direspon oleh netizen penikmat rawon kluwek atau berkuah hitam. Mereka merasa sejatinya rawon adalah dengan kluwek dan berbumbu hitam. Selain dari itu maka Namanya sudah bukan rawon, melainkan soto.


foto : Cuitan Netizen

Di tengah kebisingan kontroversi antar netizen penikmat rawon kuning dan rawon kluwek, ternyata muncul sekte lain yang sebenarnya terlihat mirip soto menghadirkan dua varian rawon dengan santan, atau kuah bening. Hal ini spontan makin menambah keributan netizen. Mereka saling menyerang dengan berbagai kalimat penyesatan dan penghinaan terhadap hidangan rawon yang biasanya berkuah hitam.


foto : Cuitan Netizen

Sebagai omnivore yang tidak punya kuasa atas lidah (alias sanggup melahap apapun asal bisa dimakan), kami tidak dapat menentukan dimana posisi kami berdiri pada perdebatan rawon ini. Karena sejatinya nasi yang diguyur kuah berbumbu adalah panganan yang seharusnya bebas dari konflik dan perdebatan, apapun substansinya. Tapi jangan harap pendapat barusan akan meredakan emosi netizen yang terlanjur meledak-ledak. Karena seperti biasa, akan selalu ada pihak yang akan mencoba menengahi lewat cara mereka masing-masing. Contohnya seperti ini :


foto : Cuitan Netizen

Terkesan seperti memuat pesan “sudah, jangan ribut. Ini aku biasa makan rawon kuah merah.”, alih-alih malah semakin memecah keributan yang sampai saat ini belum dapat terkendali. Chef @tiarbah yang mengawali diskusi ini pun memilih angkat tangan dan melanjutkan servis motornya.

Kalau kamu, tim rawon kluwek garis keras atau variannya?


(AYOREC.ID/blog)

Artikel sebelumya
Liburan Tiba? Ini Dia Aktifitas Yang Gak Bikin Liburanmu Membosankan!
Pernah ngerasa bosen banget gara-gara libur kelamaan? Mungkin aktifitas ini pas buat kamu!
Artikel berikutnya
PROMO SOS OVO CASHBACK 30%
Buat para pemburu cashback, kuy manfaatin promonya!